Kerangka Paper
1.
Tema: Gaya Mengajar Guru yang
Menyenangkan
2. Kerangka:
i.
Apakah Itu Mengajar?
·
Pengertian
mengajar
Mengajar
adalah kegiatan yang dilakukan guru dan anak didik secara bersama-sama untuk
memperoleh pengetahuan melalui proses pembelajaran yang akhirnya membentuk
prilaku atau kepribadian anak. Sedangkan secara teoritis, mengajar lebih
bersifat penyampaikanpengetahuan, dan mendidik lebih beraksentrusi pada
penanaman nilai.
Mengajar
adalah membimbing kegiatan siswa belajar atau mengataur dan mengorganisasi
lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan
siswa melakukan kegiatan belajar.
Berikut ini adalah
definisi dari mengajar menurut para ahli
1.
Andri
Hakim Mengajar merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan tingkat
kompleksitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa mengajar
merupakan sebuah seni, sekaligus sebuah ilmu pengetahuan yang dapat dilatih
serta dipelajari.
2.
W.Gulo
Mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang emmungkinkan
terjadinya proses belajar itu secara optimal.
3.
Roymond
H. Sinamora Mengajar merupakan suatu perilaku yang kompleks. Perilaku mengajar
yang kompleks dapat ditafsirkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah
komponen yang terdapat dalam tindakan mengajar untuk menyampaikan pesan
pengajaran.
4.
Highet,
1954 Mengajar adalah "menjadi" tidak "dijadikan", emosi,
nilai - nilai yang dimiliki oleh setiap guru adalah diluar garapan ilmiah, oleh
sebab itu menurutnya mengajar adalah suatu seni bukan ilmu.
5.
Gage,
1978 Mengajar adalah suatu seni, akan tetapi itu hanya dalam prakteknya saja
untuk memperindah estetika penampilan, misalnya seni dalam berinteraksi dan
berkomunikasi dengan siswa, seni mengatur lingkungan agar siswa senang belajar,
seni membangkitkan motivasi dan lain sebagainya.
6.
Doni
Koesoema A mengajar merupakan panggilan dan tugas suci dalam hidup.
7.
HR
Ibn Abdil-Barr Mengajar merupakan cara terbaik bersedekah. Mengajarkan ilmu
akan mendekatkan seseorang kepada Allah.
8.
George
Picket dan John J. Hanlon Mengajar merupakan sebuah profesi dan ketrampilan.
Tidak semua orang cocok untuk tantangan seperti itu berdasarkan temperamen,
pelatihan, maupun pengalamannya.
·
Penjelasan
makna Mengajar?
Makna Belajar menurut
beberapa ahli yaitu :
1.1)
Belajar
menurut teori Behavioristik : Belajar adalah perubahan tingkah
laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon.
1.2)
Belajar
menurut Waston : Belajar adalah proses interaksi antara stimulus
dan respon. Namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah
laku yang dapat diukur dan dapat diamati (Observabel).
1.3)
Belajar
menurut Thorndik : Belajar merupakan perubahan tingkah laku akibat
dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit yaitu yang dapat diamati atau
tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
1.4)
Belajar
menurut DEPDIKNAS (2003) : Mendefinisikan belajar sebagai proses
membangun makna atau pemahaman terhadap informasi dan pengalaman.
·
Apakah
setiap pengajar berbeda?
Para pengajar tentu memiliki cara
tersendiri dalam mengajar karena setiap manusia memiliki pemikiran tersendiri
terkadang ada seorang guru yang meniru gaya mengajar gurunya sewaktu menjadi
siswa.
·
Adakah
variasi gaya mengajar?
1. Gaya Mengajar Komando
Guru memberi
demonstrasi dan penjelasan, kemudian seluruh peserta didik melakukan gerakan
beberapa kali, dengan arahan guru.
2. Gaya Mengajar Latihan
Guru memberi
demonstrasi dan penjelasan, dilakukan dalam beberapa tahap sehingga peserta
didik paham, kemudian peserta didik melakukan, dan guru berada di antara mereka
untuk memperbaiki.
3. Gaya Mengajar
Resiprokal
Guru
mempersiapkan lembar tugas gerak yang harus dilakukan peserta didik, guru
memberi demonstrasi dan penjelasan serta klarifikasi lembar tugas resiprokal.
Peserta didik melakukan dan temannya mengamati lalu mengisi lembar pengamatan
secara bergantian. Guru berada di antara peserta didik untuk membetulkan
kesalahan dan membantu dalam pengamatan jika diperlukan.
4. Gaya Mengajar Penugasan
Dalam gaya
mengajar ini, guru menentukan tugas dan peserta didik diberi kesempatan untuk
membuat keputusan apa yang akan mereka lakukan. Tugas dibagi dalam beberapa
level. Pada level pertama, seluruh peserta didik melakukan tugas yang sama,
dengan tahap yang mereka mampu. Pada level kedua, setiap peserta didik
melakukan tugas sesuai dengan capaian pada level pertama. Pada level
selanjutnya, peserta didik menerima serangkaian tugas yang mereka
bertanggungjawab untuk menyelesaikannya. Guru menyediakan sumber informasi,
tetapi peserta didik harus memperkaya dengan sumber-sumber lain yang sesuai.
5. Gaya Mengajar Penemuan
Terpimpin
Dalam gaya
mengajar ini, guru memberikan tugas melakukan gerak, dan peserta didik diberi
kebebasan untuk bagaimana melakukan gerak. Misalnya: guru memberi arahan
“Berdiri dalam posisi siap dan melompat sejauh mungkin di atas matras” maka
peserta didik akan melakukannya dengan berbagai cara.
6. Gaya Mengajar Pemecahan
Masalah
Gaya ini hampir
sama dengan penemuan terpimpin, jika pada gaya penemuan terpimpin, peserta
didik diarahkan untuk menemukan jawaban yang sama, dalam gaya pemecahan
masalah, peserta didik dapat memberikan jawaban yang berbeda. Misalnya guru
memberikan masalah “bagaimana caranya supaya kita dapat mendarat dengan aman
dan sejauh mungkin dari posisi sebelum melompat?”
7. Gaya Mengajar
Eksplorasi
Gaya mengajar
yang berpusat pada siswa, guru memberikan tugas gerak yang memungkinkan peserta
didik untuk bergerak bebas melakukan tugas sesuai yang mereka inginkan. Guru
hanya memberi sedikit arahan. Gaya ini dapat dipergunakan untuk mengenalkan
suatu konsep, peralatan yang baru dikenal, atau untuk mengetahui apakah peserta
didik menyukai tugas gerak. Misalnya: “Temukan berapa gerakan menendang bola
yang bisa dilakukan?”
ii.
Permasalahan
·
Masalah
yang sering terjadi?
Mengajar bagi sebagian orang adalah hal yang sangat
membosankan,menjenuhkan dan tidak menantang. Sebab itu banyak yang membuat guru
bosan mngajar karena peserta didik yang kurang pandai dalam menangkap
pelajaran. Dalam merencanakan strategi
yang tepat, maka guru harus mengetahui kemampuan peserta didik dan memilih
metode pembelajaran yang akan digunakan.
Guru memang tidak semuanya disenangi oleh siswanya. Sikap
tidak senang siswa ini pada dasarnya bukan disebabkan oleh siswa itu sendiri,
melainkan dari guru. Faktor ketidak senangan tersebut diantaranya adalah: guru
tidak obyektif, guru malas, guru sering marah, guru tidak menghargai pendapat
siswa, guru berwawasan sempit, guru tidak menguasai bidang studi yang diajarkan,
guru tidak bermoral, dan termasuk guru yang tidak mempunyai gaya mengajar,
yakni monoton dan membosankan. (tambahan di sumber buku “menjadi guru
inisiator”Drs. Thoifuri, M.Ag.) hal 82-83
Faktor guru:
1. Sering guru hanya melakukan transfer ilmu, jarang mengadakan umpan balik secara langsung. Solusi: jika saya menjadi guru, akan lebih komunikatif dengan peserta didik sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi siswa.
2. Gaya mengajar guru seringkali monoton sehingga membosankan. Solusi: seharusnya guru lebih memahami masing-masing haya belajar siswa sehingga didapat kesesuaian antara gaya mengajar dan gaya belajar.
3. siswa: lapar, ngantuk, males, terlalu fokus sehingga seringkali konsentrasi pecah, mata pelajaran tidak menarik, cuaca panas
1. Sering guru hanya melakukan transfer ilmu, jarang mengadakan umpan balik secara langsung. Solusi: jika saya menjadi guru, akan lebih komunikatif dengan peserta didik sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi siswa.
2. Gaya mengajar guru seringkali monoton sehingga membosankan. Solusi: seharusnya guru lebih memahami masing-masing haya belajar siswa sehingga didapat kesesuaian antara gaya mengajar dan gaya belajar.
3. siswa: lapar, ngantuk, males, terlalu fokus sehingga seringkali konsentrasi pecah, mata pelajaran tidak menarik, cuaca panas
iii.
Mengapa harus menyenangkan
·
Haruskah
dalam mengajar menyenangkan?
Kalau menurut saya perlu karena guru
mengajar manusia yang mempunyai titik jenuh dimana yang terlalu dijejali materi
terus menerus akan bosan.
Jawabannya adalah YA, ketrampilan mengajar atau gaya dalam
mengajar menjadi syrat mutlak untuk
efektifnya sebuah proses mengajar
belajar. Setiap guru pasti menginginkan agar materi yang diajarkannya mudah
dimengerti dan dipahami oleh anak didiknya. Setiap guru past menginginkan
sebuah perubahan terjadi pada anak didiknya atas apa yang diajarkannya, baik
itu perubahan pola piker, khasanah pengetahuan, maupun perubahan pola sikap.
(“Gaya mengajar yang menyenangkan siswa” Suparman S.)
iv.
Solusi
·
Harus
memahami pesertadidik
Dengan
memeahi peserta didik seorang guru akan tahu dimana yang harus diperjelas
kepada siswa yang membutuhkan pengajaran lebih.
·
Melihat
keinginan persertadidik
Tidak
selamanya siswa memiliki kesukaan dan keinginan sama, ada juga siswa yang tidak
suka matematika, untuk mengatasi hal tersebuh guru harus mampu membuat siswa
itu menjadi suka matematika agar siswa itu ingin mempelajari pelajaran itu.
3.
Referensi
·
Menjadi Guru Inisiator
(Drs. Thoifuri, M.Ag. / cetakan I, Merat 2008)
·
Gaya Mengajar yang
Menyenangkan (Suparman S. / cetak I, Juni 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar